Kejut.com

Rabu, 15 Desember 2010

Baktiku


              5 Februari 2010. Aku tiba di Akmil magelang tepat pukul 07.30. Bertemu dengan keluarga mas, mencium dan menggandeng tangan bapak, tangan yang sudah menua dan keriput. Wajar saja, bapak sudah berumur lebih dari 80 tahun, tapi jangan ditanya soal semangat. Semangat yang begitu luarrrrr biasa untuk menempuh perjalanan sekitar 9 jam, sekedar untuk melihat putra yang sudah 3 bulan ini tidak beliau dengar kabarnya, sedikitpun. Upacara ceremonial selesai, kami turun ke lapangan untuk bertemu dengan mas, badan yang begitu kurus dan hitam seolah bercerita lebih banyak daripada kata-kata. Entah apa yang dipikiran bapak saat itu, tidak ada perubahan ekspresi yang bisa ku lihat, datar dan tenang. Cuma ada sedikit senyuman ketika mas mencium tangan dan memeluk bapak (betapa aku ingin menangis saat itu…..).
            20 Juli 2010. Dalam wisuda prasetya perwira dikmapa PK TNI 2010, wisuda mas setelah menyelesaikan pendidikan dasar untuk diresmikan menjadi letnan dua AL. Kondisi bapak tidak sesehat 5 bulan lalu, beberapa kali terdengar bapak menahan batuk. Tapi sekali lagi, tubuh itu tidak terlalu kuat  menghalangi semangat beliau untuk datang melihat putra kebanggaannya dilantik menjadi seorang perwira (what a tough). Begitu kebanggan yang luar biasa bagi seorang bapak. Kebanggaan itu bertambah ketika secara langsung bapak bisa melamarkan aku buat mas. Dan rasa lelah itupun seolah terbayar….. That was showed how much his love with a give that comes straight from his heart.
            Kenapa aku terus bercerita tentang bapak? Bukankah ada ibu? Tidak banyak yang aku tahu, bahkan hanya sekedar melalui cerita. Aku hanya tahu kalau ibu meninggal karena penyakit stroke, tidak lebih. Hingga hari itu, ketika pedang pura telah terangkat, sempat terlihat sedikit air di mata mas. “Apa yang ada di pikiran mas saat itu? Rasa banggakah terhadap almamaternya?” Bukan, alasannya sederhana, rasa haru karena bapak dan ibu tidak bisa melihat mas saat itu. Keadaan bapak yang semakin lemah sudah tidak memungkinkan lagi untuk datang…
Bapak, ibu, seandainya kalian melihatku saati ini….

           
Dyah Ayu Paramita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar