“Para hadirin undangan yang berbahagia, pada siang yang indah ini kita bersama akan menjadi saksi pernikahan antara Letda Laut (K) drg. Nur Ali dengan Sdri. Dyah Ayu Paramita, S.Si yang akan memasuki fase kehidupan baru melalui Prosesi Upacara Pedang Pura dalam keadaan sehat dan berbahagia selalu”
Terdengar MC mulai membacakan pembukaan untuk acara pedang pura kami, barisan berseragam putih sudah siap berbaris berhadapan dengan pedang kehormatan yang mereka angkat hingga membentuk jajaran pedang yang membentuk gapura, kamipun berjalan dibawahnya. Cuaca yang panas sama sekali tidak mengurangi kehikmatan acara saat itu, suasanya begitu hening, para undangan berdiri, tidak ada suara lain yang bisa saya dengar kecuali iringin music dan suara kedua MC yang mengiringi langkah kami berjalan di bawah gapura pedang yang seolah semakin memantapkan kami dalam menjalani kehidupan berumah tangga kedepannya (amin).
Pada suatu titik kami berhenti, berhadapan, memandang satu sama lain dan dikelilingi oleh pasukan putih yang kembali memainkan pedang mereka hingga membentuk payung. Dengan iringan music yang pelan terdengar MC membacakan IKRAR WIRA SATYA :
”Adik....Saat ini dengan Pedang Sakti Wira Samudra, berarti hidupku adalah hidupmu, tugasku adalah tugasmu, dipundaku ku pikul suatu tugas suci prajurit samudra dan itu semua menjadi tugasmu jua....Ya Tuhan...Yang Maha Kasih Pelimpah Kasih, Yang Maha Penyayang Pelimpah Sayang, Kepada-Mu Lah Kupanjatkan Do’a, Kepada-Mulah Kudambakan Rizki, Limpahkanlah Kepada Kami.......Jalan Hidup yang Benar, Tunjukkanlah Kepada Kami ...... Jalan Hidup Yang Terang, Jadikanlah Kehidupan Kami Ini...Kehidupan Yang Berguna, Semoga Kehidupan Kami .........Amin…Amin…Amin…”
Selama ikrar dibacakan, rasa tegangku berubah menjadi haru, seolah menyadarkan bahwa memang pengertianlah yang menjadi modal utama istri seorang prajurit, siap dengan segala resiko yang menyangkut profesi suami tercinta dan yang mungkin paling penting adalah siap untuk berbagi cinta dengan Negara (HHm....). Bagaimanapun hidup adalah suatu pilihan. Suatu pilihan yang tepat bisa menjadi istri prajurit jika melihatnya dari kacamata yang positif, artinya memang dengan iktikad baik bersedia mendampingi suami tercinta dalam keadaan suka maupun duka (InsyaAllah, amin).
Pasukan putih itupun menurunkan pedang kmereka, memberi salam hormat sebagai wujud kehormatan dan dukungan mereka kepada rekannya yang menempuh kehidupan baru. Kemudian inspektur upacara beserta istri membacakan selembar kertas yang berisi peresmian saya menjadi Keluarga Besar TNI Angkatan Laut dan Anggota Jalasenastri. Dan hufh....upacarapun selesai.
Oleh : Dyah Ayu Paramita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar